Selasa, 11 Maret 2014

LAPORAN KIMIA ANALISIS "NITRIMETRI"

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Titrasi nitrimetri merupakan titrasi yang digunakan dalam analisa – analisa senyawa organik, khususnya untuk persenyawaan amina primer. Penetapan kualitas suatu zat didasari oleh reaksi antara feri amina primer (aromatic) dengan natrium dalam suasana asam membentuk garam diazonium. Nitrimetri merupakan cara analisa volumetri yang berdasarkan pada reaksi pembentukan garam diazonium. Garam diazonium terbentuk dari hasil reaksi antara senyawa yang mengandung gugus amih aromatis bebas, pada suhu dibawah 15 °C dalam senyawa asam. Senyawa – senyawa yang dapat ditentukan dengan metode nitrimetri adalah seperti sulfameraun, sulfadaun dan sulfa nilamid. Oleh karena itu, percobaan ini dilakukan, dimana sangat bermamfaat dala dunia farmasi, seperti sulfanilamid sangat berguna sebagai obat anti mikroba melihat kegunaannya tersebut percobaan titrasi nitrimetri ini dilakukan agar penyalahgunaan obat – obatan tersebut dapat di hindari, serta para farmasis dapat mengetahui bagaimana penetapan kadar yang harus digunakan, seehingga mengurangi adanya kesalahan. I.2 Maksud Percobaan Mengetahui dan memahami cara pengidentifikasian zat dalam suatu sampel serta mampu menetapkan kadar benzokain menggunakan prinsip reaksi diazotasi. I.3 Tujuan Percobaan Mengidentifikasi kadar dari senyawa benzokain secara kualitatif dan kualitatif menggunakan larutan baku natrium nitrit 0,05 M brdasarkan prinsip reaksi diazotasi (Nitrimetri). I.4 Prinsip Percobaan Menetapkan kadar sampel dengan prinsip reaksi diazotasi dimana digunakan NaNO₂ sebagai titran, kerts kanji iodida sebagai indikator atau campuran tropiolen oo dan metilen blue sebgai indikator dalam titrasi dilakukan pada suhu ± 15 °C, denga TAT adalah menghasilkan warna biru, tergantung senyawa yang dititrasi. . BAB II TINJAUAN PUSTAKA II.1 Teori Jenis titrasi diazotasi yang cukup sederhana untuk dilakukan dan sangat berguna untuk analisis antibiotik sulfonamida dan anastatik lokal turun asam benzoat. Titrasi dilakukan dengan menggunakan natrium nitrit yang diasamkan, menyebabkan fungsi amih aromatik primer diubah menjadi garam diazonium, seperti pada reaksi sulfasetamina dengan asam nitrit ( Watson, 2010 ). Titrasi diazotasi ini sangat sederhana dan sangat berguna untuk enetapkan kadar – kadar senyawa antibiotik sulfonamida dan juga senyawa – senyawa anasetika lokal golongan asam amina benzoat. Metode titrasi diazotasi disebut juga nitrimetri yaitu metode penetapan kadar secara kualitatif dengan menggunakan larutan baku NaNO₂. Metode ini didasarkan pada reaksi diazotasi yakni reaksi antara amina aromatik primer dengan asam nitrit dalam suasana asam membentuk garam. Titik akhir titrasi diazotasi tercapai apabila pada penggoresan larutan yang dititrasi pada pasta kanji iodida atau kertas kanji iodida akan terbentuk warna biru juga ( Abdul dan Ibnu, 2007 ). Sudah kita lihat bahwa dalaam titrasi redoks ada dua jenis indikator, indikator yang kkhusus bereaksi dengan salah satu komponen yang bereaksi dan indikator oksidasi reduksi yang tidak tergantung dari salah satu at tetapi hanya pada potensian larutan selama titrasi ( Wunas, 1968 ). II.2 Uraian Bahan Asam Klorida (FI IV hal. 49) Nama Resmi : ACIDUM HYDROCHLORIDUM Nama lain : Asam Klorida RM / BM : HCI / 36.46 Pemerian : Cairan tidak berwarna; berasap; bau merangsang, jka diencerkan dengan 2 bagian volume air, asap hilang. Bobot jenis lebih kurag 1,1 Kelarutan : Larut dalam air. Kegunaan : Sebagai pereaksi. Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat Natrium hidroksida (FI III hal. 412) Nama Resmi : NATRII HYDROXYDUM Nama lain : Natrium hidroksida RM / BM : NaOH / 40,00 Pemerian : Bentuk batang, butiran, massa hablur atau keping, kering, keras, rapuh, dan menunjukkan susunan hablur; putih, mudah meleleh basah. Sangat alkalis dan korosif. Segera menyerap karbon dioksida. Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air dan etanol (95%) P. Kegunaan : Sebagai pereaksi Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik. Natrium Nitrit (FI III hal. 714) Nama Resmi : NATRIUM NITRIT Nama Lain : Natrium Nitrit RM / BM : NaNO₂ / 69.00 Pemerian : Hablur; tidak berwarna. Kelarutan : Larut dalam 5 bagian air. Kegunaan : Sebagai pereaksi Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik. Asam Asetat (FI IV hal. 45) Nama Resmi : ACIDUM ACETICUM Nama lain : Asam Asetat BM / RM : CH₃COOH / 60.05 Pemerian : Cairan jernih tidak berwarna; bau khas; menusuk, rasa asam yang tajam Kegunaan : Sebagai pereaksi Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat. Asam Pikrat (FI III hal. 736) Nama Resmi : TRINITROFENOL Nama lain : Asam Pikrat RM / BM : C6H₂(OH) (NO₂)₃ / 229.11 Pemerian : Serbuk halus, kuning terang, tidak berbau, mudah meledak Kegunaan : Sebagai pereaksi Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat. Asam Sulfat (FI IV hal. 52) Nama Resmi : ACIDUM SULFURICUM Nama lain : Asam Sulfat RM / BM : H₂SO₄ / 98.07 Pemerian : Cairan jernih, seperti minyak, tidak berwarna, bau sangat tajam dan korosif. Kelarutan : Bercampur dengan air, dengan etanol, dengan menimbulkan panas. Kegunaan : Sebagai pereaksi Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat. II.3 Prosedur Kerja Analisi Sulfadiaizn Kualitatif Reaksi pendahuluan Zat + HCI 2 N lalu didalamnya dicelupkan batang krek api akan timbul warna jingga pada batang korek. Zat + DAB HCI terbentuk endapan kuning lama – lama jingga. Reaksi spesifik Reaksi diazotasi : zat ditambah HCI 2 N + air NaNo₂ dan teteskan larutan B-Naftol dalam 2 ml NaoH₂ larutan jernih berbentuk endapan jungga ke merah darah, jika ditambahkan naftol akan terbentuk warna merah ungu. Reaksi penegasan Reaksi gugus sulfon zat + H₂O₂ 3 % tambahkan 1 tetes FeCI₃ 0,5 N terbentuk endapan BaSO₄. Reaksi cuprifil : zat ditambah 2 ml air panaskan hingga mendidih, tambahkan HCI 2 N + CuSO₄ akan timbul warna kuning lama – lama violet. Reaksi pasri : zat + alkohol + pereaksi parry + NH₄OH akan terjadi perubahan warna hijau kotor ke ungu. Kualitatif Lebih kurang 400 mg sampel ditimbang seksama, larutkan dalam 75 ml air dan 10 ml asam klorida p, dinginkan. Titrasi perlahan – lahan dengan natrium nitrit . 0.05 M pada suhu tidak lebih dari 15 ᵒC hingga 1 tetes larutan segera membrikan warna biru pada kertas kannji yodida. Analisis Isonizid Kualitatif Reaksi mayer : sampel ditambah HCI 0,5 N dan pereaksi mayer terjadi endapan berwarna kuning. Reaksi Boucardat : sampel ditambah HCI 0,5 N dan pereaksi Boucardat terjadi endapan warna coklat yang larut dalam alkohol berlebihan. Reaksi umum Initi firidin : zat ditambah asam sitrat dan asam asetat anhirat dipanaskan terjadi warna violet. Reaksi penegasan Zat + NaCO3 dipijarkan tercium bau piridin Zat + NaOH dipanaskan keluar gas / bau NH3, dibuktikan lakmus merah menjadi biru. Zat + FeCI3 timbul endapan coklat merah Zat + pereaksi luff timbul endapan biru hitam. Zat + pereaksi fehling (A+B) timbul endapan biru hitam Zat + ditambah reaksi korek api terjadi kuning Reaksi kristal Zat ditambah asam pikrat Zat ditambah pereaksi dragendurf Zat ditambah HgCI2 Analisis natrium siklamat Kualitatif Larutkan 100 mg dalam 10 ml air, tambahkan 1 ml HCI dan 2 ml larutan BaCI2, larutan tetap jernih. Tambahkan 1 ml NaNO2 p 10 %; terbentuk endapan putih. Kuantitatif Lebih kurang 400 mg sampel yang ditimbang seksama, larutkan dalam campuran 50 ml air dan 5 ml HCI. Titrasi pada suhu kamar dengan Natrium Nitrit 0,05 M menggunakan indikator kertas kanji iodida, lakukan percobaan blanko. Analisis Benzokain Kualitatif Reaksi diazo positif : sedikit zat dilarutkan dalam 10 tetes HCI encer tambahkan NaNO3 dan larutkan naftol dalam NaOH, terjadi warna merah Sedikit sampel ditambah 1 ml asam asetat ditambahkan asam pikrat jenuh, dipanaskan kemudian didinginkan, terjadi kristal yang larut lagi pada pemanasan dan setelah didinginkan lagi terbentuk kristal yang bagus. Sampel ditambah 2 tetes asam asetat dan 5 tetes asam sulfat pekat, panaskan; terjadi bau etil asetat ( seperti balon ). Kuantitatif Pipet 0,05 ml larutan sampel, tambahkan 15 ml HCI encer, dinginkan. Titrasi perlahan – lahan dengan Natrium Nitrit 0,05 M pada suhu tidak lebih 15 oC hingga 1 tetes larutan segera memberikan warna biru pada kertas kanji yodida. Titrasi dianggap selesai jika titik akhir dapat ditunjukkan lagi setelah larutan dibiarkan selama 1 menit. Analisis primakum fosfat Kualitatif Identifikasi terhadap fosfat ; Ambil 0,5 ml larutkan sampel, masukkan kedalam tabung reaksi dan tambahkan : Perak nitrat, lalau panaskan ; akan terjadi endapan kuning perak fosfat larut dalam asam Nitrat dan amonia. Amonium molibdat, lalu asamkan dengan asam nitrat, biarkan sampel timbul endapan kuning dari amonia fosfumolibdat. Kunatitatif Timbang seksama lebih kurang 100 mg sampel, larutkan dalam 25 ml air, tambahkan 10 ml HCI, dinginkan. Titrasi perlahan – lahan dengan Nitrit 0,05 M pada suhu tidak lebih dari 15 oC hingga 1 tetes larutkan segera memberikan warna biru pada kertas kanji yodida. Titrasi dianggap selesai jika titk akhir dapat ditunjukkan lagi setelah dibiarkan selama 1 menit. BAB III METODOLOGI PRAKTIKUM III.1 Alat dan Bahan Alat Pipet tetes Sendok tanduk Tabung reaksi Rak tabung reaksi Gelas kimia Gelas ukur Batang pengaduk Neraca analitik Corong kaca Klem dan Statif Buret Erlenmeyer Termometer Bunsen Pipet volume Botol semprot Bahan Asam Klorida Natrium Nitrit Asam sulfat Natrium hidroksida Asam Pikrat Asam Asetat III.2 Cara Kerja Analisis benzokain # Kualitatif Disiapkan alat dan bahan Disiapkan 2 tabung reaksi, dan diberi label tabung reaksi 1 dan 2 Dimaskkan benzokain secukupnya setiap tabung reaksi Ditambahkan asam asetat pada tabung I dan 0,10 ml pada tabung II Ditambahkan asam pikrat pada tabung I dan asam sulfat 0,25 ml pada tabung II Dipanaskan dan didinginkan Ditabung I terjadi kristal dan tabung II bau etil asetat Dicatat hasil pengamatan. # Kuantitatif Dipipet 5,0 ml larutan bnezokain kedalam erlenmeyer Ditambahkan 15 ml HCI encer dan didinginkan Dititrasi dengan natrium nitrit 0,05 M pada suhu tidak lebih dari 15 ºC dengan cara didinginkan Diambil larutan benzokain yang telah dititrasi sebanyak 1 tetes dan diteteskan pada kertas kanji yodida yang akan memberikan warna biru selama 1 menit. III.3 Skema Kerja Analisis Benzokain # Kuantitatif # Kuantitatif BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN IV.1 Hasil Pengamatan Analisis data Kualitatif NO. PERLAKUAN HASIL LITERATUR YA TIDAK 1 Benzokain + CH₃COOH + asam pikrat Terjadi kristal 2. Benzokain + CH₃COOH + H₂SO₄ P Bau etil salisilat (seperti balon) Kuantitatif NO. Bobot sampel (ml) V. titran N.titran Kadar % 1. 5 ml 2,6 ml 0,1 N 0, 87 % Perhitungan Rumus % kadar =(N.titran x V.titran x BE)/(ml x 1000) x 100 % BE = 169,15/1 % Kadar = (0,1 ml x 2,6 ml x 169,15)/(5 x 1000) x 100 % = 169,15 = 43,979/5000 x 100 % = 0,87 % Reaksi C9H11NO2 + CH3COOH C9H11CH3COO + HNO2 C9H11CH3COO + C6H11N3O7 C9H11N3O7 + C6H3CH3COO C9H11NO2 + CH3COOH C9H11CH3COO + HNO2 2 C9H11CH3COO + H2SO4 (C9H11)2 SO4 + 2 CH3COO IV.2 Pembahasan Titrasi nitrimetri merupakan penetapan kadar secara kuantitaitf dengan menggunakan larutan baku natrium nitrit. Nitrimetri umumnya digunakan sebagai penentuan sebagai besar obat sulfonamida dan obat – obat lain sesuai pnggunaanya diantarnya penisilih dan sulfomeasin kemurnian zat tersebut dalam suatu sampel. Pada percobaan kali ini menganalisis senyawa benzokain secar kualitatif dan kuantitatif. Pada pengidentifikasian senyawa benzokain direaksikan dengan pereaksi H2SO4, CH3COOH, asam pikrat dan HCI. Sedangkan penetapan kadar dengan prinsipnitrimetrik (diazotasi) yang berlangsung dibawah suhu 15 oC. Tujuan reaksikan dilakukan 15 oC, sebab pada suhu yang lebih tinggi garam diazonium akan terurai menjadi fenol dan nitrogen. Pada perlakuan pertama yaitu benzokain dalam bentuk serbuk dan asam asetat (CH3COOH) dan poenambahan asam pikrat dan menghasilkan perubahan warna menjadi dari bening menjadi adanya kristal hal ini telah sesuai literatur. Hal ini disebabkan karena kosentrasi antara benzokain dan pikrat telah sesuai, sehingga ketika larutan dipanaskan dan didinginkan akan menghasilkan kristal pikrat benzokain (C9H11N2O7). Pada perlakuan analisis kuantitatif yang kedua yaitu benzokain direaksikan dengan asam asetat (CH3COOH) dan penambahan asam sulfat yang menghasilkan bau etil asetat. Hal ini telah sesuai dengan literatur dimana ini disebabkan karna ketika reaksi benzokain direaksikan dengan H2SO4 akan menghasilkan bau etil asetat (C9H11)2 SO4 dan dimana benzokain ini mudah larut dalam asam sulfat. Adapun data kuantitatif pada benzokain yang akan dititrasi dengan larutan baku natrium nitrit (NaNO2) dimana kadar yang dihasilkan pada larutan benzokain dengan larutan baku NaNO2 pada volume titran 2,6 ml N.titran 0,1 N yaitu 0,87 %. Kadar yang dihasilkan memiliki kemurnian yang rendah. Menurut literatur Farmakope Indonesia Edisi III kadar dan benzokain untuk menuntukan kemurnian yaitu tidak kurang dari 99,0 %. Ketidak sesuaian dengan litertur karna sampel yang digunakan sudah lama sehingga terjadi penguraian zay – zat yang terkandung dari benzokain sehingga kadar dari benzokain rendah. Adapun warna yang dihasilkan telah sesuain dengan literatur dimana litertaur hasil warna yaitu biru. Hal ini disebakan. Hal ini disebabkan karean suhu yang didapatkan dengan literatur telah sama yaitu15oC. Dimana jika suhu 15 oC. Dimana jika suhu 15 oC tinggi garam diazonium aka terurai menjadi fenol dan nitrogen. BAB V PENUTUP V.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa : Benzokain + CH3COOH + asam pikrat menghasilkan kristal Benzokain + CH3COOH + H2SO4 p menghasilkan etil asetat (seperti balon) Identifikasi senyawa benzokain menghasilkan kadar 0,87 %. V.2 Saran Disarankan agar praktikan lebih dibimbing lagi dan lebih diarahkan pada saat praktikum berlangsung dan alat yang digunakan harus lebih dilengkapi lagi agar praktikum dapat berlangsung dengan baik. DAFTAR PUSTAKA Dirjen POM. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta Dirjen POM. 1979. Farmakope Indonesia Edisi IV. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta Gholib, Ibnu., dan Rohman, Abdul. 2007. Kimia Farmasi Analisis. Pustaka Pelajar. Jogjakarta Watzon, 2010, Asas Pemeriksaan Kimia, UI press, jakarta Wunas, J, said, 1986, Analisa Kimia Farmasi Kuantitatif, UNHAS, Makassar

Selasa, 10 Desember 2013

laporan mikrobiologi teknik isolasi mikroba


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
 Pada umumnya mikroba yang hidup di alam terdapat dalam bentuk populasi campuran. Sangat jarang mikroba di alam dijumpai sebagai spesies yang tunggal. Dengan demikian, agar mikroba tersebut dapat diidentifikasikan, sehingga mudah dipelajari sifat pertumbuhan, morfologis, dan fisiologis masing-masing mikroba maka langkah pertama yang harus dilakukan yaitu spesies tersebut dipisahkan dari organisme lain yang umum dijumpai dalam habitatnya, kemudian ditumbuhkan menjadi biakan murni yaitu suatu biakan yang terdiri dari sel-sel dari satu spesies.
Mikroorganisme tersebar luas di dalam lingkungan baik di tanah, air,maupun udara. Keberadaan mikroorganisme baru dapat kita rasakan melewatimakanan yang kita konsumsi dan sebagai akibatnya produk pangan jarang sekali yang steril dan umumnya tercemar oleh berbagai mikroorganisme. Bahan panganselain merupakan sumber gizi bagi manusia, juga sebagai sumber makanan bagi perkembangan mikroorganisme. Pertumbuhan atau perkembangan mikroorganisme dalam makanan sangat erat hubungannya dengan kehidupan manusia.
Mikroorganisme merupakan mahluk hidup yang sangat banyak, baik ditanah, air maupun udara. Untuk itu perlunya isolasi maupun permurnian untuk mendapatkan mikroorganisme tersebut. Populasi yang besar dan kompleks dengan berbagai mikroba terdapat dalam tubu manusia termasuk dimulut, saluran pencernaan dan kulit. Isolasi adalah cara untuk memisahkan atau memindahkan mikroba tertentu dari lingkungannya, sehingga diperoleh kultur murni atau biakan murni. Kultur murni ialah kultur yang sel-sel mikrobianya berasal dari pembelahan dari satu seltunggal. Kultur murni atau biakan murni diperlukan karena semua metode mikrobiologis yang digunakan untuk menelaah dan mengidentifikasi mikroorganisme, termasuk penelaahan ciri-ciri kultural, morfologis, fisiologis,maupun serologis, memerlukan suatu populasi yang terdiri dari satu macam mikroorganisme saja.
Adapun yang melatar belakangi sehingga peraktikum ini dilaksanakan adalah untuk mengetahui dan menguasai teknik isolasi mikroba dari wadah yang satu ke wadah yang lain sehingga hanya biakan murni yang dapat tumbuh.

B.     Tujuan
   Adapun tujuan dari percobaan Teknik Isolasi Mikroba adalah sebagai berikut :
1.    Untuk mengetahui dan memahami teknik pengisolasian mikroba.
2.   Untuk mengetahui teknik pemindahan biakan mikroba dari wadah satu ke wadah yang lain sehingga tidak bercampur dengan bakteri lain.     





















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Prinsip dari isolasi mikroba adalah memisahkan satu jenis mikroba dengan mikroba lain yang berasal dari campuran bermacam-macam mikroba. Hal ini dapat dilakukan dengan menumbuhkannya dalam media padat, sel-sel mikroba akan membentuk koloni sel yang tetap pada tempatnya  (Nur, I. dan Asnani, 2007).
Dikenal beberapa cara atau metode untuk memperoleh biakan murni dari suatu biakan campuran. Dua diantaranya yang paling sering digunakan adalah metode cawan gores dan metode cawan tuang. Yang didasarkan pada prinsip pengenceran dengan maksud untuk memperoleh spesies individu. Dengan anggapan bahwa setiap koloni dapat terpisah dari satu jenis sel yang dapat diamati  (Afrianto, 2004).
Biakan murni diperlukan dalam berbagai metode mikrobiologis, antara lain digunakan dalam mengidentifikasi mikroba. Untuk mengamati ciri-ciri kultural morfologi, fisiologi dan serologi dibutuhkan mikroba yang berasal dari satu spesies  (Dwidjoseputro, 2005).
         Menurut Hadioetomo (1993), ada dua metode yang dilakukan untuk memperoleh biakan murni yaitu :
1.  Metode cawan gores
                 Metode ini mempunyai dua keuntungan, yaitu menghemat bahan dan waktu. Metode cawan gores yang dilaksanakan dengan baik kebanyakan akan menyebabkan terisolasinya mikroorganisme yang diinginkan.
2.  Metode cawan tuang
                 Cara lain untuk memperoleh koloni murni dari populasi campuran mikroorganisme adalah dengan mengencerkan spesimen dalam medium agar yang telah dicairkan dan didinginkan ( ±50­­ oC ) yang kemudian dicawankan. Karena konsentrasi sel-sel mikroba di dalam spesimen pada umunya tidak diketahui sebelumnya, maka pengenceran perlu dilakukan beberapa tahap sehingga sekurang-kurangnya satu di antara cawan tersebut mengandung koloni terpisah di atas permukaan ataupun di dalam agar. Metode ini memboroskan bahan dan waktu namun tidak memerlukan keterampilan yang tinggi.
Metode cawan gores memiliki dua keuntungan yaitu menghemat bahan dan waktu. Namun untuk memperoleh hasil yang baik diperlukan keterampilan yang lumayan yang biasanya diperoleh dari pengalaman. Metode cawan gores yang dilaksanakan dengan baik kebanyakan akan menyebabkan terisolasinya mikroorganisme seperti yang diinginkan. Dua macam kesalahan yang umum sekali dilakukan oleh para mahasiswa yang baru mulai mempelajari mikrobiologi ialah tidak memanfaatkan permukaan medium dengan sebaik-baiknya untuk digores sehingga pengenceran mikroorganisme menjadi kurang lanjut dan cenderung untuk menggunakan inokulum terlalu banyak sehingga menyulitkan pemisahan sel-sel yang digoreskan (Ratna, 1990).
         Menurut Dwidjoseputro (1980), sifat-sifat koloni yang tumbuh pada agar-agar lempengan, pada agar-agar miring dan pada tusukan gelatin adalah sebagai berikut :
1.      Sifat-sifat koloni pada agar-agar lempengan mengenai bentuk, permukaan dan tepi. Bentuk koloni dilukiskan sebagai titik-titik, bulat berbenang, tak teratur, serupa akar, serum kumparan. Permukaan koloni dapat datar, timbul mendatar, timbul melengkung, timbul mencembung, timbul membukit dan timbul berkawah. Tepi koloni ada yang utuh, ada yang berombak, ada yang berbelah-belah, ada yang bergerigi, ada yang berbenang-benang dan ada yang keriting.
2.      Sifat-sifat koloni pada agar-agar miring. Sifat ini berkisar pada bentuk dan tepi koloni dan sifat itu dinyatakan dengan kata-kata seperti : serupa pedang, serupa duri, serupa tasbih, serupa titik-titik, serupa batang dan serupa akar.
3.      Sifat koloni tusukan dalam gelatin. Ada bakteri yang dapat mengencerkan gelatin. Karena itu, maka bentuk-bentuk koloninya juga berbeda-beda. Lagipula bentuk koloni yang tidak dapat mengencerkan gelatin. Bila dilihat dari samping koloni yang tidak mengencerkan gelatin dapat serupa pedang, tasbih, bertonjol-tonjol dan berjonjot. Jika bakteri mampu mengencerkan gelatin, maka bentuk koloninya dapat serupa kawah, serupa mangkuk, serupa corong, pundi-pundi dan berlapis.
Setelah mikroba ditumbuhkan pada media agar tabung maupun cawan dan estelah inkubasi akan terlihat pertumbuhan bakteri dengan berbagai macam bentuk, ukuran, sifat, dan berbagai ciri khas yang lain. Ciri-ciri ini akan mengarahkan ke sifat-sifat mikroba tersebut pada media pertumbuhan, sehingga pengamatan morfologi ini sangat penting untuk diperhatikan (Ratna,1990).
Bakteri yang memiliki flagella sering kali membentuk koloni yang menyebar terutama jika menggunakan lempengan agar basah, untuk mencegah menyebarnya koloni maka harus digunakan agar benar-benar kering (Djida, N., 2000).




 
BAB III
METODOLOGI
A.      Waktu dan Tempat
Adapun waktu dan tempat pelaksanaan praktikum  adalah sebagai berikut :
Hari/Tanggal                    : Rabu, 04 April 2012
Waktu                              : 13.15 – Selesai WITA
Tempat                             :  Laboratorium Mikrobiologi Dasar FMIPA UNTAD

B.      Alat dan Bahan
1.      Alat
                     Adapun alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah :


1.   Hot plate
2.   Jarum ose
3.   Cawan Petri
4.   Bunsen
5.   Inkubator
6.   Hand sprayer
7.   Kertas
8.   Erlenmeyar



2.      Bahan
                     Adapun bahan-bahan yang dipakai adalah sebagai berikut :
1.      Alkohol (ethanol)
2.      Sampel bakteri
3.      Medium NA
4.      Medium PDA



C.    Prosedur Kerja
a.      Membuat PCA (Plating Count Agar)
1.      Mensterilkan tangan dengan menyemprotkan alcohol 70 % secara menyeluruh pada telapak sampai permukaan lengan.
2.      Mensterilkan cawan petri dengan melidah-apikan cawan petri secara merata.
3.      Mensterilkan mulut Erlenmeyer dengan cara melidah-apikan pada api Bunsen.
4.      Memasukkan medium dengan cara membuka penutup cawan petri dengan sudut 30o dan mendekatkannya pada api Bunsen.
5.      Menutup kembali cawan petri lalu member label pada bagian bawahnya.
6.      Menunggu sampai medium yang telah dibuat memadat.
b.      Isolasi Bakteri (Teknik Goresan Langsung)
1.         Mensterilkan jarum ose dengan membakar sampai pijar pada api bunsen lalu mencelupkan ke dalam larutan alkohol 70 %
2.         Melidah-apikan kembali jarum ose pada api Bunsen.
3.         Menyentuhkan jarum ose ke atas bakteri, lalu menggoreskan secara langsung ke agar cawan. Model goresan langsung seperti gambar :



4.         Membungkus agar cawan tersebut dengan menggunakan kertas secara terbalik dan setelah itu menyimpan ke inkubator dengan suhu 37 oC selama 48 jam.



























B.   Pembahasan
Percobaan kali ini membahas tentang cara-cara atau teknik yang biasa digunakan dalam mengisolasi mikroba dari habitat alaminya. Teknik isolasi mikroorganisme adalah suatu usaha untuk menumbuhkan mikroba di luar lingkungan alamiahnya. Pemisahan mikroorganisme dari lingkungannya ini bertujuan untuk memperoleh biakan bakteri yang sudah tidak bercampur lagi dengan bakteri lainnya atau yang disebut biakan murni. Di kehidupan normalnya atau di habitat alamiahnya mikroba sulit ditemukan dalam bentuk koloni sendiri. Mikroba ini pasti ditemukan dalam bentuk koloni yang hidup bersama-sama dengan koloni mikroba yang lainnya. Oleh karena itu, pengisolasian ini dilakukan.
Percobaan ini diawali dengan tahap pengenceran. Dalam hal ini, medium agar yang digunakan diencerkan terlebih dahulu selama ±15 menit pada Hot Plate dengan suhu 300°C. Hal ini bertujuan agar medium yang digunakan dapat mencair setelah disimpan selama beberapa hari di refrigerator. Setelah diencerkan dengan menggunakan Hot Plate, medium ini didinginkan sekitar 5 menit namun tidak jangan sampai dingin sekali. Hal ini dilakukan untuk menghindari medium agar tidak kembali mengeras. Setelah agak dingin, medium ini pun siap untuk digunakan.
Pengisolasian ini dilanjutkan dengan pembuatan medium tempat mikroba ini nantinya akan tumbuh atau dengan kata lain membuat habitus sintetisnya. Medium ini terlebih dahulu disterilkan dengan cara melidah-apikan mulut botol tempat penyimpanan medium agar tersebut. Begitupun dengan cawan petri itu sendiri. Sebelum semua prosedur kerja dilakukan terlebih dahulu tangan harus disterilkan menggunakan alcohol 70% yang disemprotkan ke seluruh permukaan tangan.
Dalam percobaan ini, kami menggunakan jarum ose sebagai media untuk memindahkan mikroba tersebut dari habitus alaminya. Jarum ose tersebut terlebih dahulu harus disterilkan dengan cara membakarnya pada bunsen sampai jarumnya pijar. Lalu jarum ose tersebut didiamkan selama ±2 menit, tujuan hal ini yaitu untuk mendinginkan jarum ose-nya yang habis dipijarkan tadi agar ketika jarum ose itu digoreskan ke dalam cawan petri yang berisi objek mikroba yang akan diisolasi, tidak segera mematikan mikrobanya.
Praktikum kali ini adalah mempelajari teknik isolasi mikroba dengan cara goresan. Teknik goresannya dilakukan dalam cawan petri. Dengan menggunakan jarum ose yang sebelumnya dipanaskan pada api bunsen lalu dicelupkan pada alkohol untuk sterilisasi jarumnya. Goresan diberikan sangat tipis sekali pada permukaan atas medium dalam cawan petri secara zig-zag,
Pada percobaan ini mikroba yang digunakan hanya satu jenis yaitu bakteri dan menggunakan dua medium yakni medium NA dan medium PDA.
Medium NA berfungsi untuk membiakan berbagai macam mikroorganisme serta kultur bakteri. Sedangkan medium PDA berfungsi untuk menumbuhkan fungi jenis kapang. Pada praktikum ini kita mempelajari bagaimana melakukan teknik inokulasi biakan mikroorganisme pada medium steril sehingga bisa mendefinisikan bahwa teknik inokulasi adalah pekerjaan memindahkan bakteri dari medium lama kemedium baru dengan tingkat ketelitian sangat tinggi dan dituntut untuk bekerja secara aseptic yaitu bebas dari pengaruh kontaminan mikroorganisme yang lain. Teknik aseptic dilakukan dengan penyediaan alat-alat kerja yang steril dan bekerja didekat api Bunsen agar terhindar dari kontaminan udara.pada waktu inokulasi jarum yang digunakan untuk meindahkan mikroba harus dipijarkan diatas api segera sebelum dan sesudah melakukan pemindahan. Pemanasan ini menghancurkan semua bentuk kehidupan yang ada pada permukaan jarum atau alat pemindahan, setelah di inokulasi biakan bakteri disimpan dan diinkubasi dalam lingkungan yang sesuai untuk petumbuhan.
Setelah diinkubasi selama 48 jam diperoleh hasil pertumbuhan mikroba hanya pada medium NA, sedangkan pada medium PDA tidak mengalami pertumbuhan sama sekali. Hal ini dikarenakan mikroba yang diisolasi adalah jenis bakteri, dan bakteri hanya dapat tumbuh pada medium NA. Jadi yang akan dibahas pada kali ini adalah bagaimana pertumbuhan mikroba pada medium NA. Pada cawan petri pertama, jumlah koloni yang tumbuh adalah sebanyak 8 koloni dan memiliki morfologi seperti warna putih susu, tepi berlekuk, bentuk tak beraturan dan menyebar, permukaan timbul, dan tekstur kusam. Pada cawan petri kedua, jumlah koloni yang ditemukan adalah sebanyak 4 koloni dan berwarna kream, tepi berlekuk, bentuk tak beraturan dan menyebar, permukaan timbul, dan tekstur kusam. Pada cawan petri ketiga dan keempat, masing-masing ditemukan mikroba dengan jumlah 5 koloni dan 1 koloni, dan untuk morfologinya sama dengan pada cawan petri kedua. Untuk cawan petri terakhir ditemukan mikroba sebanyak 6 koloni, dan memiliki morfologi seperti warna kream, tepi tak beaturan, bentuk tak beraturan dan menyebar, permukaan timbul dan tekstur kusam.
Berdasarkan hasil percobaan tersebut diatas maka dapat dikatakan percobaan tersebut belum berhasil. Menurut Ratna (1990), bila menggunakan teknik menggores yang baik maka pada suatu area tertentu pada permukaan medium yang digores, sel-sel bakteri akan terpisahkan satu dari lainnya. Sel-sel tunggal yang terpisahkan seperti ini disebut sel induk. Bagi kebanyakan bakteri, setelah masa inkubasi selama 24 jam, satu koloni murni dapat terdiri dari 50-72 generasi sel yang timbul dari satu sel induk tunggal. Dengan perkataan lain, satu koloni murni terdiri dari bermilyar-milyar sel anak. Karena itu, hendaklah dipahami bahwa pertumbuhan bakteri sesungguhnya merupakan pertambahan jumlah sel dan bukan ukuran sel.











BAB V
PENUTUP
A.    Kesimpulan
         Adapun yang dapat disimpulkan dari percobaan Teknik Isolasi Mikroba adalah sebagai berikut:
1.      Teknik isolasi mikroorganisme adalah suatu usaha untuk  menumbuhkan mikroba diluar dari lingkungan alamiahnya, untuk memperoleh biakan murni. Biakan murni yaitu mikroba yang sudah tidak bercampur lagi dengan mikroba lainnya.
2.      Teknik yang digunakan untuk teknik isolasi mikroba adalah teknik goresan, yaitu metode goresan radian, langsung dan kuadran.
3.      Medium yang digunakan untuk biakkan murni adalah medium NA untuk biakkan bakteri dan medium PDA untuk biakkan kapang.

B.     Saran
Pada praktikum selanjutnya sebaiknya praktikan lebih memperhatikan lagi pada saat praktikum dilaksanakan.  Agar tidak terjadi kesalahan-kesalahan kecil yang bisa mempengaruhi hasil yang diperoleh. 















DAFTAR PUSTAKA
Afrianto, L., 2004, Menghitung Mikroba Pada Bahan Makanan, Cakrawala (Suplemen pikiran rakyat untuk iptek), Farmasi FMIPA ITB : Bandung.

Djida, N., 2000,  Metode Instrumental dalam Mikrobiologi Umum,  UNHAS      Press :  Makassar.

Dwidjoseputro, 1980,  Dasar-Dasar Mikrobiologi, Djambatan : Jakarta.

Hadioetomo, R. S., 1993,  Mikrobiologi Dasar dalam Praktek, Gramedia : Jakarta.

Nur Indriyani, Asnani, 2007, Penuntun Praktikum Mikrobiologi Akuatik, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Unhalu : Kendari.

Ratna, Sri, 1990, Mikrobiologi Dasar dalam Praktek, Jakarta : Gramedia.